Category: KARABEL

Mari Mengenal Sejarah Telepon!

Oleh Liputan6 pada 25 Okt 2016, 07:12 WIB

Ilustrasi telepon
Sumber gambar: m.liputan6.com (link tertera di bawah).

Madu Features – Penemuan telepon membawa kita pada penemunya, yakni Antonio Meucci. Berkat pria berkebangsaan Italia ini, manusia dapat saling berkomunikasi di mana pun dan kapan pun.

Telepon di zaman dahulu masih menggunakan kabel dengan tombol nomor berbentuk bundar (rotary dial). Seiring berjalannya waktu, bentuk dan fungsi telepon mengalami perubahan yang signifikan.

Kini fungsi telepon tak hanya sekadar untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk aktivitas hiburan. Apalagi, kini semua orang sangat terikat dengan telepon genggam untuk kegiatan sehari-hari.

Lalu, seperti apa perubahan telepon selama 140 tahun terakhir ini? Yuk, ikuti perjalanannya dari masa ke masa, seperti dilansir dari Slate, berikut ini:

1. Bell Telephone (1876)

Telepon ini pertama kali dibuat oleh Alexander Graham Bell di mana saat sedang itu dipamerkan di Pameran Centennial di Philadelphia.

Produk ini merupakan percobaan laboratorium. Jarum transmisi dan asam sulfat menghasilkan getaran suara ke penerima gelombang elektromagnetik.

2. Telepon di Abad 19 (1890)

Bentuk telepon mulai berubah menjadi demikian dan turut menjadi penanda berkembangnya teknologi di abad ke -19.

Pada telepon sebelumnya mendengar dan berbicara dilakukan di perangkat yang sama, sedangkan pada telepon ini, penelepon harus menggunakan perangkat yang berbeda.

3. Western Electric 302 (1937)

Operator Amerika Serikat (AS), AT&T mengeluarkan model telepon dengan model rotary dial dan gagang telepon tersambung kabel. Lewat telepon ini, AT&T memonopoli sistem telepon di negaranya. Telepon ini dirancang dibuat oleh desainer terkenal Henry Dreyfuss.

 4. The Trimline (1965)

Ini adalah model terakhir yang dikeluarkan AT&T. Pada rancangan ini, tombol nomor disematkan langsung ke telepon tersebut. Sebelumnya, telepon biasanya diletakkan di dapur karena memiliki kabel panjang.

Perubahan signifikan ini terjadi karena penambahan tombol bintang (*), tagar (#), dan tombol dial untuk pengulangan telepon ke nomor sama. Selain itu, tombol angka juga bertambah menjadi 12 digit.

Era Telepon Genggam

5. Cordless Phones (1980)

Tahun 1980 menjadi era berakhirnya telepon dengan kabel. Di tahun tersebut, telepon tanpa kabel mulai populer.

6. The Motorola DynaTAC (1983)

Jika Anda lihat, telepon buatan Motorola ini tidak memiliki kabel, dan hanya memiliki antena. Bodinya juga bongsor. Namun, di masa itu, ponsel ini justru sering muncul di berbagi iklan hingga film Wall Street tahun 1987.

Ponsel ini dirancang oleh Rudy Krolopp dan dipasarkan pada 1984 seharga US$ 4.000.

7. Motorola StarTAC (1996)

Satu dekade setelahnya, Motorola merilis kembali merilis telepon, yakni StarTAC. Bedanya, telepon ini merupakan telepon genggam yang dapat digunakan secara mobile, dan memiliki layar.

8. Smartphone

Dalam perjalanannya hingga abad ke-21, telepon mengalami perubahan sangat signifikan jika dibandingkan pada saat telepon pertama kali ditemukan.

Telepon di era modern bertranformasi menjadi sebuah perangkat pintar yang dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yakni smartphone.

Smartphone tak lagi memiliki tombol fisik, hanya layar sentuh yang dilengkapi dengan tombol virtual. Untuk berkomunikasti pun, orang-orang tak hanya bisa menelepon dan berkirim pesan, tetapi lewat internet.

Kecanggihan teknologi smartphone membuat orang dapat saling berkomunikasi meskipun lokasinya sangat jauh.

(Reihan Maulida/Cas)

Artikel ini telah dipublikasikan oleh m.liputan6.com pada tanggal 25 Oktober tahun 2016. Berikut link dari artikel tersebut:

https://m.liputan6.com/tekno/read/2632116/menyimak-perjalanan-telepon-dari-masa-ke-masa

Nabilla Menang Lagi!

Penulis: Emiliana I           Sen, 20 Sept 2021 | 18.50 WIB

Madu Features – Nabilla Nur Aprilliani atau yang kerap disapa Nabilla memenangkan kompetisi bela diri karate untuk yang ke sekian kalinya! Nabilla baru saja memenangkan Kejuaraan Nasional Sekoci Cup 4 dengan menyandang juara pertama.

Ketika ditanya perihal kiat-kiat untuk dapat menjadi juara, siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 12 Bandung ini menjawab bahwa latihan, latihan, dan latihan adalah caranya untuk menjadi juara seperti saat ini.

Untuk mendapatkan informasi mengenai kompetisi bela diri karate, Nabilla berkata bahwa ia dapat mengetahui informasi seputar kompetisi bela diri tersebut dari pelatihnya ataupun dari sosmed (akronim dari sosial media), namun setelahnya Nabilla menambahkan juga bahwa dirinya lebih banyak mendapatkan informasi kompetisi bela diri ini dari pelatihnya.

Tidak heran jika Nabilla dapat menduduki peringkat yang besar di bela diri yang tengah ia geluti. Nabilla gigih sekali berlatih untuk terus meningkatkan kemampuannya, loh! Seperti yang kita sudah ketahui tadi, Nabilla berkata bahwa latihan, latihan, dan latihan ialah kunci menjadi juara. Hmm, jadi pengen tahu jadwal latihan Nabilla itu seperti apa deh!

Siswi yang berusia lima belas tahun ini biasa berlatih bela diri karate di Kota Cimahi dengan jadwal empat kali dalam kurun waktu satu minggu. Tidak ayal jika Nabilla dinobatkan sebagai juara, setuju ‘kan teman-teman Madu Sehat sekalian?

Empat hari yang disebutkan di atas tadi ialah hari senin, hari Selasa, hari Sabtu, dan hari MInggu. Itu merupakan jadwal Nabilla untuk latihan karate. Padat sekali, ya? Belum lagi hari Sabtu yang kata Nabilla latihannya itu biasa dilakukan sebanyak dua kali, baik pada pagi hari juga sore harinya. Waah, produktif banget gak sih teman kita ini?

Nabilla tetap semangat berlatih meskipun — seperti yang kita tahu – situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Nabilla juga tetap menjaga produktivitasnya untuk terus maju. Yap, itu keren banget dan di sisi lain sosok Nabilla itu inspiratif sekali!

Nah, sekarang mari kita bahas mengenai perbedaan ketentuan prosedur dalam kompetisi bela diri ini baik setelah ataupun sebelum adanya pandemi.

Jadi teman-teman semuanya, Nabilla bilang bedanya antara kompetisi bela diri karate setelah dan sebelum pandemi itu cukup kentara buat Nabilla sendiri, loh! Saat itu — sebelum pandemi ini terjadi — biasanya para peserta dilihat dan dinilai secara langsung (face to face) oleh juri iya, ‘kan?Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, Nabilla berkata bahwa untuk dinilai oleh juri, peserta cukup mengirimkan video atau melakukan panggilan dan memeragakan gerakannya melalui aplikasi zoom meeting.

Membahas tentang perbedaan tersebut, Nabilla berkata bahwa tidak ada yang lebih sulit baik secara offline ataupun secara online. Jika kompetisi itu dilakukan secara online kemudian menyadari bahwa ada gerakan yang salah, videonya dapat di-take ulang. Hal itu tidak mungkin dapat dilakukan dalam kompetisi yang diadakan secara offline.

Namun, jika kompetisi dilakukan secara offline, para peserta dapat merasakan euforia yang tinggi. Sorakan penonton, kehebohannya, serta kehisterisan untuk mendukung masing-masing peserta secara mental yang mana membagikan banyak sekali energi positif. Hal itu tidak terjadi jika kompetisi diadakan secara online.

Ternyata memang selalu ada dampak positif dan negatifnya tersendiri, ya?

Di luar kegiatannya dalam bela diri karate, Nabilla ternyata hobi menononton K-Drama atau juga biasa kita sebut dengan drakor (akronim dari drama Korea).

Tergambar jelas ya selain latihan dengan jadwal yang padat, Nabilla tetap beristirahat dan melakukan refreshing juga.

Ketika ditanya mengenai idola, Nabilla menjawab bahwa Sandra Sánchez Jaime ialah idolanya. For your information, sang idola ialah karateka yang berkebangsaan Spanyol, teman-teman!

And last but not least, mari kita lihat harapan Nabilla untuk ke depannya. Nabilla bilang kalau harapannya untuk ke depan adalah untuk terus berprestasi dan terus membanggakan kedua orang tuanya.

Aamiin, aamiin, aamiin!

Untuk Nabilla, semangat terus untuk tetap berkarya ya!

Memperingati Hari Solidaritas Hijab Internasional 4 September

Senin, 6 Sept 2021            15.40 WIB
Emiliana I.  

Madu Features – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang biasa disingkat menjadi KBBI, hijab ialah kain yang digunakan untuk menutupi muka dan tubuh wanita muslim sehingga bagian tubuhnya tidak terlihat.

Mengingat tanggal 4 September ditetapkan sebagai Hari Solidaritas Hijab Internasional, kami sepakat dan tertarik dalam mengusung tema mengenai reaksi non-muslim ketika mengenakan hijab.

Melihat dari sumber-sumber audio visual social experiment yang telah diamati, tidak sedikit non-muslim yang tertarik untuk mencoba mengenakan hijab.

Dilihat pada reaksi mereka, tidak jarang untuk melontarkan reaksi positif terhadap hijab, seperti ini kira-kira:

It’s comfortable!” (terj: ini nyaman!)

Interesting!” (terj: menarik!)

It’s so beautiful!” (terj: ini sangat cantik!)

I like it!” (terj: aku suka ini!)

It’s nice!” (terj: ini bagus!)

Serta reaksi-reaksi positif lainnya.

Dan jika kamu tertarik untuk melihat reaksinya serta berminat untuk menonton, aku akan taruh beberapa link video di bawah ini ya!

Semoga bermanfaat!

Melihat Sejarah Karate di Indonesia

18 Februari 2021, 20:20 WIB

Penulis: Any Hidayati Editor: Lily Indriyani

Madu Features – Buat para penggemar manga atau anime Jepang Detective Conan dan mengenal tokoh Ran Mori, tentu tak akan asing dengan olahraga beladiri karate.

Sama seperti Ran Mori, olahraga karate juga berasal dari Negeri Sakura. Tepatnya di Pulau Okinawa, bagian selatan Jepang.

Karate muncul untuk kali pertama, sekitar 1876 atau era Kerajaan Ryukyu. Lalu, mulai berkembang ke seluruh Jepang, awal abad ke-20.

Di Indonesia, karate mulai diperkenalkan oleh mahasiswa Tanah Air yang baru selesai menuntut ilmu di Negeri Sakura pada tahun 1963.

Saat itu, Baud A.D. Adikusumo yang juga mendalami karate dan mendapat sabuk hitam di Jepang, mengajak beberapa rekannya. 

Sebut saja, Mochtar Ruskan, Karianto Djojonegoro, dan Ottoman Noh, untuk mendirikan sebuah dojo alias tempat latihan.

Dengan bahu-membahu, akhirnya dojo karate pertama Indonesia berdiri di Jakarta, masih di tahun yang sama.

Setahun kemudian, tepatnya 10 Maret 1964, Adikusumo dan kawan-kawan yang membawa aliran karate Shotokan mendirikan induk karate nasional, Persatuan Olahraga Karate (PORKI).

Bala bantuan dari para alumni Tanah Air yang mencari ilmu di Jepang kemudian berdatangan di tahun-tahun awal pembentukan PORKI.

Adalah Setyo Harsono (pendiri dojo Gojukai), Anton Lesiangi, Sabeth Mukhsin, dan Chairul Taman yang turut mengembangkan karate hingga aliran nusantara makin beragam.

Para karateka, sebutan untuk atlet karate, asli Jepang pun kemudian berbondong-bondong melakukan misi menyebarkan lebih banyak lagi aliran dojo. 

Seperti Matsusaki (Kyushin Ryu, 1966), Ishi (Goju Ryu, 1969), Hayashi (Shito Ryu, 1971) dan Masutatsu Oyama (Kyokushinkai, 1967).

Sayang, semakin beragamnya aliran karate yang berkembang, perpecahan di dalam tubuh PORKI pun muncul.

Ketidakcocokan antara PORKI dengan para pengurus dojo membuat kemunculan induk olahraga tandingan.

PORKI kembali bersatu pada 1972 dengan nama anyar, yaitu FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia) dan bertahan hingga saat ini.

Setengah abad berkembang di Indonesia, karate mencetak banyak karateka berprestasi di berbagai ajang nasional maupun internasional.

Misalnya, Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, Rifki Ardiansyah Arrosyiid merebut medali emas untuk nomor kumite 60 kg putra.

Terbaru, FORKI akan mengirim lima karateka untuk mengikuti kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020 yang akan berlangsung pada 23 Juli s.d. 8 Agustus mendatang.

Kelima karateka tersebut akan tampil dalam Karate Premier League di Rabat, Maroko, dan World Olympic Qualification Tournament di Paris, Prancis.

FORKI bertekad untuk meloloskan wakilnya ke Jepang sebagai saksi sejarah debut karate di level Olimpiade.

Artikel ini telah terbit di olahraga.skor.id dengan judul “Skorpedia: Sejarah Karate di Indonesia, Sebuah Perjalanan dari Negeri Sakura” pada tanggal 18 Februari 2021 pukul 20:20 WIB.

https://olahraga.skor.id/skorpedia-sejarah-karate-indonesia-sebuah-perjalanan-dari-negeri-sakura-01368127

Lantas Bagaimana

Bagaimana cara memutar waktu?

Tuntutku lugu pada dinding membisu
Ketika cahaya menggerutu
Hingga bayangku terbias temaram lampu

Tak ada sua ataupun kata
Gema maupun luka
Mencipta mahakarya nelangsa
Melekat pada bentuk yang ada

Bagaimana cara menebas rindu?
Tanyaku nanar pada awan kelabu
Menguburnya jauh hingga tertutup pintu?
Mengulur benang-benang masa lalu agar tiada menggebu-gebu?

Lantas bagaimana caraku menunggu?
Meredam kalut hingga kelu?
Atau-
Menjadi manusia yang baru?

Karya: emiliana (xis4)

MaduFeatures.