Category: KARABEL

Senja tanpa Mu

Sore ini aku duduk di halaman belakang

Meminum kopi sembari melihat ilalang yang bergoyang

Mengamati suasana senja yang perlahan akan menghilang

Sembari merenungkan setiap momen yang akan terkenang

 

Dengan suara yang lembut dan tatapan teduhnya

kala itu ia berani mengucapkan janji

‘kan bersamaku dan menjaga ku, hingga akhir nanti’

 

Tapi kemudian, pelangiku pergi hari itu

Ia membawa seluruh canda dan tawaku

Lalu meninggalkan duka beserta luka untukku

Dan sejak hari itu, warna jingga di sore hari bukan lagi kesukaanku

 

(X-8)

Inilah hidup

Di dalam buku usang kepunyaanku, kelopak bunga terjatuh

Tercetak disana dan menjadi pertanyaan.

 

“membeli bunga, kering, ditampal di buku. Untuk apa?”

 

Dari pertanyaan yang bodoh itu tentu mendapat pertanyaan bodoh juga

 

“menjadi Tinker Bell yang ingin menciptakan dunia dongengnya sendiri dengan ketidaksempurnaan. Dunia nya yang tidak seperti Tir Na Nog, dunia yang cantik dan muda selamanya dalam cerita rakyat Irlandia. Dunia miliknya ini ada banyak pelengkap. sedih, kecewa, dan bahagia. Maka jadilah yang cukup.”

 

(Bunga Agdara dari XI MIPA 6)

Haruskah?

Dibalik mendung pasti ada hujan

Dibalik kedatangan pasti ada alasan

Detik menit yang berlalu adalah cerita

Akan ku pastikan ada makna didalamnya

Hati yang datang sepihak, bukan berarti harus memihak

Pemikiran yang dianggap sama, ternyata kita jauh berbeda

 

Bukan tentang kamu ataupun aku

Ini tentang kita, yang nyatanya tak sama

Bukan tentang memberikan pelajaran

Namun, bagaimana cara aku dan kamu memetik pelajaran dibalik cerita

Rasa syukur yang kau untai, terputuskan begitu saja

Haruskah ku samakan standar yang ada?

Sepertinya, tidak.

Karena aku terlalu bermekaran untuk kamu yang menguncup

 

(Annisa Shafa Camila dari X-9)

Air yang tak Jernih

Kau tahu itu busuk, tapi kau tetap memakannya

Kau tahu itu beracun, tapi kau tetap meminumnya

Aku yakin kau tahu itu

 

Kata orang jangan lakukan itu, tapi kau melakukannya

Kata orang jangan lewat situ, tapi kau terus melaju

Sesombong itukah dirimu kawan?

 

Kau melihat tetapi sebenarnya kau buta

Kau mendengar tetapi sebenarnya kau tuli

Berubahlah kawan, selagi masih ada kesempatan

Karena tak ada air yang tak jernih

 

(Achmad Rifal dari X-5)

Mencintai dalam Diam

Entah aku yang terlalu berharap atau memang kamu yang tak peduli.
Aku selalu bertanya pada diriku, apa rasa sayangku kurang untuk membuatmu merasa cukup ??
Seandainya kamu tahu seberapa tulusnya aku mencintaimu, apakah masih tersimpan rasa pedulimu ??

Sungguh aku benar benar mencintaimu, melebihi diriku sendiri.
Kau tau, sakit ketika melihat dirimu melirik wanita lain.
Menurutmu apakah aku harus berhenti ??

Sejujurnya melupakan dirimu secara perlahan memang sulit.
Tapi berdiam sendiri dengan rasa sakit ini membuatku lelah.

But, I can’t stop loving you 🙂
Karena kehadiranmu membuatku tau apa itu arti cinta yang tulus.

Dari aku untuk kamu sang pujaan hati

(Kresna_X-6)

RAGU

“Kali ini kamu berharap apa?”
“Berharap kamu gak pergi. Boleh?”
“Kamu kadang lucu juga ya.”
“Aku serius.”
“Saya malah berharap harapanmu hanya sebatas tipuan April.”
“Kenapa? Kamu ngeraguin aku?”
“Bukan ragu. Saya hanya realistis.”
“Realistis dari segi?”
“Dari segala segi.”
“Jadi kamu bakal pergi?”
“Tugas saya sudah selesai jadi untuk apa saya tetap tinggal?”
“Apa gak ada alasan lain buat kamu bisa tetep disini?”
“Tidak ada.”
“Satu alasan?”
“Tidak ada.”
“Satu alasan aja?”
“Tidak ada.”
“Apa kamu gak capek bilang ‘tidak ada’ terus?”
“Apa kamu tidak lelah memaksakan dua subjek menjadi ‘kita’ terus?”

(Emiliana I_XI IPS 4)

Sadar

Sedikit bersikap tidak peduli mungkin lebih baik

Aku menghilang pun kamu merasa biasa saja

Entah aku ini bodoh karena masih saja peduli walau diabaikan

Memang benar cinta itu membutakan segalanya

Sudah sering kali disakiti

Aku masih saja ingin bersamamu

Andaikan aku tau rasanya jatuh cinta padamu sesakit ini

Memang benar penyesalan itu dating belakangan

Tersisa hanya penyesalan

 

(Salman Kimmy.A_X-8)