Tag: puitis

Senja tanpa Mu

Sore ini aku duduk di halaman belakang

Meminum kopi sembari melihat ilalang yang bergoyang

Mengamati suasana senja yang perlahan akan menghilang

Sembari merenungkan setiap momen yang akan terkenang

 

Dengan suara yang lembut dan tatapan teduhnya

kala itu ia berani mengucapkan janji

‘kan bersamaku dan menjaga ku, hingga akhir nanti’

 

Tapi kemudian, pelangiku pergi hari itu

Ia membawa seluruh canda dan tawaku

Lalu meninggalkan duka beserta luka untukku

Dan sejak hari itu, warna jingga di sore hari bukan lagi kesukaanku

 

(X-8)

Inilah hidup

Di dalam buku usang kepunyaanku, kelopak bunga terjatuh

Tercetak disana dan menjadi pertanyaan.

 

“membeli bunga, kering, ditampal di buku. Untuk apa?”

 

Dari pertanyaan yang bodoh itu tentu mendapat pertanyaan bodoh juga

 

“menjadi Tinker Bell yang ingin menciptakan dunia dongengnya sendiri dengan ketidaksempurnaan. Dunia nya yang tidak seperti Tir Na Nog, dunia yang cantik dan muda selamanya dalam cerita rakyat Irlandia. Dunia miliknya ini ada banyak pelengkap. sedih, kecewa, dan bahagia. Maka jadilah yang cukup.”

 

(Bunga Agdara dari XI MIPA 6)

Mampir

Tadi aku mampir ke rumah bulan

Sepi dan sunyi, terlihat dipojokkan

Ia tersedu sedu menangit

Sembari menahan amarah yang bergemuruh

Cahaya tak lagi menerangi malam

Menjadi gelap dan temaram

Katanya kau diledek oleh si bintang

Begitu angkuh dan arogan

Saingannya dalam semesta antariksa

Tiada yang bisa melawannya

Prajuritnya bertebaran dimana-mana

Mungkin ialah yang terkuat

Entahlah aku tak tau dengan pemikiran awam ini

Hufttt, enak ya ia punya prajurit dimana-mana

Sedangkan aku hanya punya diriku tuk menerangi

Kerlap kerlip nya malam saja.

 

(M.Darryl_X-8)